Pembuluh Darah Bayi Kenton Keluar
Kediri (kedirijaya.com) – Pembuluh darah manusia normal, biasanya berada di bawah jaringan kulit. Tetapi tidak berlaku bagi Mohammad Rendi Pratama.
Bayi kembar yang baru berusia empat bulan ini memiliki gejala aneh. Dari kulit atas pelipis mata kirinya keluar benjolan pembuluh darah kira-kira seukuran kelereng kecil.
‘Biji pembuluh darah’ Rendi, panggilan adik kembar Mohammad Reno Pratama itu sepertinya tumbuh. Kian bertambah usia Rendi, semakin bertambah besar pula benjolan berwarna merah dan kebiru-biruan tersebut.
Rahmawati (18), ibu kandung Rendi khawatir apabila benjolan itu akan terus-terusan besar. Sehingga bisa mengganggu perkembangan dan aktivitas buah hatinya.
Sebenarnya, istri Eko Miyanto (20) itu sudah memperoleh saran agar membawa Rendi ke rumah sakit bedah supaya bisa dioperasi. Namun, karena keterbatasan biaya, dia hanya mampu memberikan obat oles, semacam salep nyambik (biawak) yang dibawakan saudaranya dari Pulau Sumbawa
“Hanya diolesi salep nyambik. Siapa tahu bisa berangsur-angsur kempes. Karena untuk biaya operasi sendiri, memang belum ada. Sekarang ini masih kumpul-kumpul (menabung),” kata Rahmawati, ibunya polos, ketika ditemui di rumah Giman, ayahnya, di Dusun Kenton, Desa Manyaran, Kecamatan Banyakan, Kabupaten Kediri, Selasa (11/10/11)
Ibu dua anak itu sengaja mengajak Rendi dan Reno bermain ke rumah kakeknya (Giman). Eko Miyanto, suaminya, sedang bekerja sebagai kuli bangunan rumah tetangganya, sekitar di Desa Ngasinan, Kecamatan Semen, Kabupaten kediri.
Sebenarnya, Rendi lahir secara normal di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Pelem, Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri. Rendi keluar dari rahim Rahmawati, sekitar satu menit setelah kelahiran Reno, kakaknya. Keduanya hanya memiliki berat badan 1,6 kilogram. Itu sebabnya, mereka harus berada di incubator
Rahmawati sendiri mengaku, sengaja melahirkan di rumah sakit milik Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kediri karena tergolong keluarga tidak mampu. Dia mengandalkan hanya kartu Jaminan Kesehatan Daerah (Jamkesda) yang bisa mengcover biayaselama melahirkan.
Satu bulan kemudian, Rahmawati melihat ada bercak merah diatas pelipis kiri Rendi. Awalnya, dia menyangka bekas gigitan nyamuk. Sehingga, hanya memberinya minyak oles biasa.
Tetapi lama kelamaan, bercak itu menjadi benjolan kecil. Lalu, putri kedua Giman itu pun mengajak suaminya meriksakan Rendi ke Puskesmas Semen. Mereka terkejut, karena puskesmas malah membuat surat rujukan agar membanya ke RSUD Pelem.
Mereka sempat bertanya perihal gejala aneh yang ada diatas pelipis sebelah kiri Rendi. Pihak puskesmas yang diwakili bidan memberitahukan jika benjolan itu adalah pembuluh darah yang keluar dari kulit.
Tanpa pikir panjang, mereka membawa Rendi ke RSUD Pelem. Disana, Rahmawati bertemu dengan dokter bedah bernama mirip suaminya yaitu, Eko. Tetapi, dia mengaku, selalu dipersulit oleh rumah sakit.
“Alasannya macam-macam. Datang hari Senin, dijanjikan selasa. Namun ditunda lagi. Pokoknya ini itu, tetek bengek. Terus-terusan, hampir satu bulan lamanya. Akhirnya kami putuskan untuk tidak membawanya kesana lagi,” urai Rahmawati, sedikit kesal, karena merasa dipermainkan.
Kendati gagal memperoleh perawatan secara medis dari dokter RSUD Pelem. Tetapi, kata ibunya, Rendi pernah menjalani operasi bedah pada seorang dokter dari kalangan TNI. Nenek Rendi yang berada di Kecamatan Semen membawanya ke dokter yang buka praktik di rumah. Kira-kira umur Rendi baru dua bulan.
Benjolan kecil yang ada diatas pelipis sebelah kiri Rendi dioperasi hingga hilang. Tetapi, tiga hari kemudian tumbuh lagi. Bahkan lebih besar. “Setelah dioperasi oleh dokter dari tentara (TNI) itu bisa kempes. Namun, tiga hari berikutnya tumbuh lagi. Kami juga bingung,” kata Rahmawati
Karena pembuluh darahnya berada di luar kulit tersebut, Rendi tidak bisa memperoleh imunisasi secara normal seperti kakaknya, Reno. Dia hanya mendapatkan imunisasi polio dan hepatitis. Itupun hanya sekali. Karena bidan tidak berani mengambil resiko.
Seharusnya Rendi bisa memperoleh imunisasi lainnya seperti, DPT dan campak, secara berkesinambungan atau setiap bulan.
“Sepertinya, tidak merasakan sakit. Kalau saya pegang juga biasa. Badannya pun tidak demam. Tetapi, kalau ini berbahaya, memang seharusnya segera memperoleh penanganan dari rumah sakit,” harapan Giman, kakek Rendi.
Terpisah, Humas RSUD Pelem Abdul Roziq ketika dikonfirmasi mengatakan, akan segera melakukan pengecekan. Sementara mengenai pelaksanaan operasi, jelasnya, memang harus melalui prosedur yakni, bayi boleh diperasi setelah berusia enam bulan dengan berat badan yang sudah ditentukan.(bj/nb)


Kediri (kedirijaya.com) – Asik berpangkuan di sebuah bilik warung, dua pasangan pemuda-pemudi terjaring razia yang digelar petugas Satpol PP Kota Kediri. Selain itu, petugas juga mengamankan 10 orang pelajar SMK yang sedang duduk-duduk di...»
Kediri (kedirijaya.com) – Penutupan lokalisasi di Kabupaten dan Kota Kediri berpotensi terhadap munculnya pelacuran liar baik di hotel, penginapan, maupun di tempat karaoke. Untuk itu pemerintah daerah diminta waspada karena diprediksi praktek prostitusi liar...»
Kediri (Kedirijaya.com) – Polisi tidak setengah-setengah dalam menindak perkara pidana yang dilaporkan warga Desa Gedangsewu, Kecamatan Pare terhadap kepala desa (kades)nya. Terkait kasus tersebut, polisi mengaku telah mengantongi saksi kunci. “Kita tinggal memeriksa saksi...» 
