Dua Periode Kebohongan Bupati Kediri?
Kediri (kedirijaya.com) – Menggelitik bagi kami setelah membaca statemen Bupati Kediri Sutrisno yang mengklaim keberhasilanya membangun Kabupaten Kediri selama dua periode ini. Muncul dalam benak kami, bahwa parameter apa yang telah dia gunakan untuk mengukur keberhasilan tersebut. Kemudian pembanding apa saja yang telah dia lakukan untuk mengetahui keberhasilan pembangunan. Seingat kami, boleh kami sebutkan sekedar mengingatkan beberapa proyek unggulan yang selama Sutrisno memimpin Kabupaten Kediri ini. Diantaranya mlinjonisasi, peningkatan jalan, Simpang Lima Gumul (SLG), pariwisata, jembatan, pengembangan wilayah, study feasibily (SF) bandara.
Ngomong keberhasilan harus ada kesepakatan dan disepakati bersama, bukan hanya asbun alias asal bunyi. Kalau hanya asal bunyi maka menjadi lucu dan patut untuk ditertawakan. Kapan keberhasilan pembangunan Kabupaten Kediri selama kepemimpinan Sutrisno diakui public? Pernahkan mendapat otonomi award dari salah satu institusi atau lembaga public? Pembaca sendiri yang bisa menyimpulkan.
Dalam catatan kami malah sebaliknya, bukan keberhasilan, namun justru kegagalan dan ketidak jelasan. Seperti mlinjonisasi. Sekitar 9 tahun lalu Bupati Kediri dengan norak dan meyakinkan memaksakan proyek mlinjonisasi. Padahal itu asal generalisasi saja, penanaman mlinjonosasi di sepanjang jalan di Kabupaten Kediri. Padahal dilakukan dengan pemaksaan dan pemerkosaan tanaman. Sebab tak semua struktur tanah layak untuk tanaman mlinjo. Akibatnya banyak tanaman yang mati. Dan dengan pelebaran jalan, sisa tanaman mlinjo juga dihabisi. Jika dihitung, dari rentan waktu penanaman, sekaranglah waktu mlinjo memanen, namun kenyataanya mana. Dana proyek sekitar Rp. 5 miliar yang dianggarkan kini telah menjadi berapa? Begitu kok dikatakan program yang berhasil.
Peningkatan jalan sepanjang di Kabupaten Kediri ini juga mengalami kegagalan. Indikasinya banyak pengaspalan jalan yang belum genap satu tahun mengalami kerusakan. Aspal dan batunya mengelupas, akibatnya menimbulkan jalan berlubang. Hal ini menunjukkan bahwa kualitas pembangunan sangat jelek. Dan ini akibat kentalnya nilai kolosi penggarap dengan pejabat. Hal ini telah terjadi, lalu mana keberhasilan pembangunan yang dimaksud?
Selanjutnya gembar-gembor tentang kota baru. Pembangunan Simpang Lima Gumul (SLG) yang dikatakan sebagai kota baru merupakan gagasan orang yang tidak punya sense of culture atau memiliki nilai budaya. Dan tidak punya wawasan tentang tata ruang wilayah. Sebagaimana diketahui bahwa posisi SLG berada diketiak Kota Kediri. Artinya pembangunan SLG tidak memiliki identitas yang jelas. Dan bila benar akan berkembang maka Kabupaten Kediri akan tenggelam dengan nama Kota Kediri. Dan pengartian Kota Baru jelas salah kaprah sebab sampai sekarang belum ada kesepakatan untuk nama kota tersebut. Namun sudah didengung-dengungkan. Apa nama kota tersebut? Kapan kesepakatanya?, dan siapa yang menyepakatinya?. Terlebih monument SLG yang didirikan merupakan the imperialism of culture atau penjajahan budaya. Kediri menjadi kiblat kebudayaan di nusantara ini. Memiliki simbul dan kepribadian tersendiri yang harusnya dibanggakan dan diabadikan. Dengan gapura dan simbol-simbol Kekedirian. Namun karena pemimpinya kehilangan jati diri dan sok, maka mengiblat ke Paris yang belum karuan jluntrungnya. Simbol atau ikon yang dipasang tidak memiliki nilai, seni, budaya luhur, sosiologi, dan budaya Kediri. Jadi dari sisi budaya, Sutrisno telah benar dan nyata melecehkan dan mengacuhkan adat dan budaya asli Kediri. Tidak keliru jika Sutrisno akan kualat. Karena Kediri dikenal wilayah keramat.
Tentang pariwisata Kabupaten Kediri, kita harus lebih dulu ngomong fakta. Pada dasarnya lokasi pariwisata di kabupaten Kediri tidak ada yang layak jual. Terkecuali hanya untuk pelesir atau tujuan wisatawan local. Jadi kalau mengandalkan pendapatan daerah dari pariwisata adalah tidak tepat. Sebab geografi Kediri merupakan asli agraris alias pertanian. Sehingga meski dibiayai berapapun hanya akan sia-sia. Ibaratnya mau jual nasi kok di tengah kuburan. Mau memancing ikan mujair kok pakai umpan sapi. Kemudian selama sepuluh tahun ini berapa devisa dari wisman atau wisatawan manca negara yang di dapatkan Kabupaten Kediri? Lucukan?
Selanjutnya adalah feasibily study jembatan dan pengembangan wilayah. Ini juga menarik untuk dicermati sebab anggara Rp. 1 miliar untuk study kelayakan jembatan Ngadiluwih-Mojo yang dilakukan delapan tahun lalu sampai sekarang tidak ada kabarnya. Padahal kebutuhan sangat mendesak adanya akses jembatan yang menghubungkan dua kecamatan tersebut. Dengan adanya jembatan jelas akan sangat memperlancar dan meningkatkan mobilisasi masyarakat. Namun sayang lagi-lagi tidak ada kejelasan. Lalu bagaimana dengan nilai dan hasil study kelayakan tersebut? Jangan-jangan anggaranya masuk kantong pribadi.
Soal keberhasilan Sutrisno dalam memimpin Kabupaten Kediri adalah adanya pengembangan wilayah kecamatan baru dari 23 menjadi 26. Namun sayang tidak efesien dan sesuai kebutuhan. Hal ini justru bertentangan dengan arah otonomi yang ada. Menghilangkan asas efektifitas dan efesiensi. Wilayah kecamatan bukan lagi wilayah otonom seperti dulu. Sehingga hanya menambah biaya yang sebenarnya bisa untuk anggaran lainya.
Tentang prestasi lain dalam pengembangan wilayah Kabupaten Kediri, saudara Bupati adalah insinyur pertanian, namun sangat memalukan petani di Kediri. Bagaimana tidak? kebijakanya tidak pro petani, hal itu bisa dilihat pada APBD. Di Dinas Pertanian dari tahun ke tahun anggaranya sangat kecil dibandingkan dengan kebutuhan pertanian. Dan Prestasi yang diakui para petanipun pada bupati insinyur pertanian tersebut adalah selama dua periode kepemimpinanya munculnya kelangkaan pupuk dari waktu ke waktu.
Terakhir adalah rencana pembangunan bandar udara. Sungguh suatu gagasan dari pemimpin yang bingung dan membingungkan. Tidak pernah mau belajar dari kegagalan-kegagalan yang sudah diperbuat. Ngomong tentang SLG aja sudah tidak benar alias mumet kok ngomong bandara. Tahun ini rencana kelayakanya dianggarkan Rp. 8 miliar. Lalu dimana nilai ekonomisnya untuk rakyat? Dan apa manfaatnya untuk rakyat kecil? Begitu kok pemimpin partai rakyat. Jangan-jangan suadara bupati ini sedang bermimpi. Lha kalau memang sedang mimpi ga usah didengar dan kami ucapkan selamat jalan tuntas sudah tugas anda menghancurkan Kabupaten Kediri ini. (Forum Koalisi Rakyat Kediri)



Bandung (kedirijaya.com) – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menyatakan, terdapat empat klub yang tampil di Liga Super Indonesia (LSI) tidak lagi mempergunakan dana APBD. Klub apa aja? Salah satu dari keempat klub itu adalah Persib...» 
